UNPI-CIANJUR.AC.ID - Alat pembuang sampah otomatis yang diberi nama Water Crap Remover (WCR), berhasil diciptakan Mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya.
Arsyad Bunyanuddin, salah seorang mahasiswa yang menciptakan WCR tersebut, mengatakan, "Awalnya, saya melihat banyaknya sungai yang seharusnya berfungsi sebagai penampung air, namun beralih menjadi penampung sampah. Hal inilah yang menimbulkan keprihatinan tersendiri bagi kami."
Dalam Innovative Design Exhibition (IDE) 2015 untuk kategori Otomasi Industri (OTI) di ITS, alat pembuang sampah otomatis (WCR) tersebut meraih juara I.
Alat WCR ini bisa menjadi solusi pembuang sampah secara otomatis agar tidak ada lagi sampah yang menggenangi danau, selokan, sungai, maupun laut, kata Arsyad. "Berawal dari kegelisahan melihat lingkungan danau di ITS yang kurang terawat, saya bersama tim mengembangkan alat WCR ini. Danau di ITS banyak yang kurang sedap dipandang karena sampah menggenang di atasnya."
Ia bersama timnya menciptakan alat yang diharapkan agar semua pihak, baik mahasiswa, staf, dosen, maupun karyawan mampu meningkatkan kesadaran akan pentingnya kolam bersih dan indah. "Cara kerja alat ini adalah mendeteksi sampah yang jatuh ke permukaan kolam dengan menggunakan sensor inframerah. Selanjutnya, dikonversikan menjadi sinyal untuk menggerakkan swiper atau penyapu."
WCR terdiri dari tiga swiper, yakni swiper utama berada di tengah dan berfungsi menyapu atau mengarahkan sampah ke swiper lain di pojok alat dan swiper lain berfungsi untuk mengarahkan sampah menuju swiper pembuang, jelasnya. "Pembuang sampah ini nantinya akan mengangkat sampah, lalu membuangnya ke luar kolam secara otomatis, sehingga sampah akan terkumpul di tepi kolam dan mudah diambil untuk dibersihkan."
Meski tergolong sederhana dalam cara kerjanya, Arsyad meyakini justru itu letak keunggulan alat WCR dan berencana akan mematenkan alatnya sebelum dikomersialkan, ujarnya. "Kelebihan WCR sangat mudah untuk dipahami, sehingga dengan gampang orang akan menggunakannya. Namun, alat ini juga mempunyai kelemahan karena komponennya belum bekerja secara maksimal akibat keterbatasan dana."