UNPI-CIANJUR.AC.ID - Hotel Ritz-Carlton di Riyadh, bukan sembarang hotel. Di hotel inilah para pejabat Arab Saudi menerima dan menjamu tamu negara, termasuk Presiden Donald Trump, yang melawat ke Saudi beberapa bulan lalu.
Namun sejak awal November, hotel ini menjadi 'penjara mewah' bagi belasan pangeran, menteri, dan pengusaha yang diduga melakukan korupsi, pencucian uang, dan penyalahgunaan kekuasaan. Tak kurang dari 200 elite 'dikurung' di sini, termasuk 11 pangeran, dua di antaranya adalah keponakan Raja Salman.
Mereka yang dilaporkan mendekam di sini antara lain adalah Pangeran Alwaleed bin Talal, salah satu pengusaha terkaya di dunia. Penangkapan dan penahanan mereka langsung diperintahkan oleh Putra Mahkota, Mohammed bin Salman.
Belasan pangeran, menteri, dan pebisnis dibawa ke Hotel Ritz-Carlton pada tengah malam tanggal 4 November. "Mereka marah dan mengira mereka tidak akan berada di hotel. Tapi ternyata hingga sekarang mereka tak boleh keluar," menurut wartawan BBC Lyse Doucet.
Sekilas tak ada perbedaan yang mencolok dengan hotel-hotel mewah lain di Riyadh, menurut wartawan BBC Lyse Doucet.
Mereka memang tak dibolehkan mengakses telepon genggam. Jika mereka ingin mengontak anggota keluarga, pejabat, perusahaan atau pengacara, telah disediakan sambungan telepon khusus.
Doucet menambahkan, "Mereka tentu saja tambah marah dengan kenyataan ini. Saya diberi tahu, sebagian besar dari orang-orang yang ditahan bersedia untuk membayar ganti rugi (agar bisa bebas)."
Putra Mahkota Mohammed bin Salman menahan sesama pangeran, pejabat tinggi dan pengusaha untuk 'membersihkan Saudi dari korupsi'. Langkah ini juga dikatakan sebagai upaya untuk menghilangkan 'konsentrasi-konsentrasi kekuasaan'.
Para analis mengatakan pembersihan ini disambut baik banyak kalangan di dalam negeri yang marah melihat korupsi.
Tapi di sisi lain langkah putra mahkota menciptakan musuh dan memicu ketidakpastian, yang pada gilirannya mengganggu stabilitas dan penerapan reformasi yang sangat dibutuhkan oleh Saudi.